Tampilkan postingan dengan label sekedar tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekedar tulisan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

SAYAP-SAYAP PATAH SANG CENDRAWASIH DI TANAH PARA DAENG

“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”

Begitulah sepenggal kalimat yang dikutip dari Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat yang mengatur tentang pendidikan bagi warga Negara Indonesia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan kewajiban yang harus diterima oleh seluruh warga negara Indonesia dengan manfaat untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat di kemudian hari.  Sejauh ini pemerintah berupaya untuk melaksanakan program yang diamanatkan oleh UUD 1945. Pada ayatnya yang keempat dalam pasal tersebut diatur pula bahwa sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Berdasarkan ayat ini pula diketahui bahwa peran pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan tidak sebatas tugas pemerintah pusat saja melainkan peran pemerintah daerah juga dituntut untuk berpartisipasi.
Terkait hal tersebut pemerintah Papua sejauh ini pun juga sudah turut serta melaksanakan amanat tersebut. Aturan khusus bagi pemerintah Papua untuk menggalakkan pendidikan tertuang dalam pasal 56 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua yang menyatakan  “Setiap penduduk berhak memperoleh pendidikan yang bermutu dengan beban masyarakat yang serendah-rendahnya”. Gejolak-gejolak yang selama ini mempertanyakan kualitas pendidikan orang-orang di tanah Papua yang dianggap masih dibawah kualitas wilayah lain di Indonesia mulai berkurang seiring dengan fokus pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang mulai memperbaiki sistem pendidikan dan penataan fasilitas yang menunjang peningkatan standar mutu pendidikan di tanah Papua. Dana Otonomi Khusus yang dilimpahkan setiap tahunnya menjadi senjata ampuh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berbagai tawaran beasiswa baik dari dalam maupun luar negeri pun ditawarkan kepada putra-putri Papua untuk menikmati pendidikan yang lebih tinggi sekaligus meningkatkan derajat kehidupan kedepannya.
Sejak tahun 2012, salah satu wujud program dari beasiswa tersebut adalah beasiswa Afirmasi Dikti Papua (ADIK Papua) yang merupakan kerjasama pemerintah Papua dengan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi. Program ini digagas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Perpres Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (P4B) dan Pepres Nomor 66 Tahun 2011 tentang Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua (UP4B). UP4B adalah lembaga setingkat menteri yang mengurusi program perencanaan pembangunan termasuk didalamnya memfasilitasi tersedianya kuota bagi putra-putri Papua untuk program beasiswa ADIK Papua. Beasiswa ini memberikan kesempatan bagi calon mahasiswa/I Papua untuk disebar ke 32 Perguruan Tinggi Negeri (sejak tahun 2013 menjadi 39) di luar Papua yang ada di Indonesia. Adapun syarat pendaftaran beasiswa ini tidak terlalu rumit. Cukup dengan menunjukkan nilai raport dari semester 1-6 dan nilai ijazah minimal 6,5 kemudian mengikuti test tertulis di masing-masing kabupaten/kota dan yang lulus kemudin akan dikirim ke Jayapura untuk mengikuti materi pembekalan yang dibawakan oleh pemerintah Papua dan perwakilan tiap-tiap Universitas.
Untuk lokasi di kawasan timur Indonesia, Makassar merupakan salah satu destinasi edukasi favorit para penerima ADIK Papua. Saya sebagai mahasiswa yang sebagian waktunya menghabiskan kehidupan di tanah Papua merasa senang ketika melihat putra-putri asli Papua mulai menampakkan diri di lingkungan kampus yang ada di Makassar.  Total sebanyak 35 orang yang mendapatkan kesempatan  menjadi angkatan pertama penerima ADIK Papua 2012 di 2 PTN yang ada di Makassar yaitu di Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Negeri Makassar (UNM). Namun sayangnya hingga tahun 2015 ini, penerima ADIK Papua di kota Makassar mulai “berguguran” dan harus diDrop-Out dari kampusnya satu per satu. Menurut informasi yang saya peroleh dari Ketua Ikatan Mahasiswa Papua (IMP) Makassar untuk kampus Unhas-UNM yang mengorganisir para penerima ADIK PAPUA, Kristian Degei, mengatakan bahwa angkatan pertama yang ada tersisa 6 orang yang aktif berkuliah dan sebagai penerima beasiswa. Mahasiswa asal Nabire ini juga menyayangkan bahwa tidak hanya angkataan 2012 saja yang mulai berkurang, angkatan 2013 pun banyak yang terkena evaluasi Drop-Out (DO) 4 semester dari masing-masing kampus, bahkan angkatan 2014 yang baru aktif setahun berkuliah mulai menampakkan gejala-gejala yang sama seperti para seniornya.
Dari beberapa pantauan yang saya lihat selama ini, saya beranggapan kalau kejadian ini disebabkan karena beberapa mahasiswa tersebut kurang mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan barunya sehingga menyebabkan shock-culture bagi mereka. Di beberapa fakultas yang mereka tempati, kelihatan bahwa mereka masih kurang terbuka untuk bersosialisasi dengan mahasiswa lain sehingga seringkali mereka kurang aktif dalam perkuliahan dan lebih sering untuk tinggal di asrama bermain bersama kawan-kawan dari Papua. Untuk membuktikan hal tersebut, saya mencoba berbagi informasi dengan ketua IMP Makassar dan beberapa teman-teman Papua. Hal yang pertama saya tanyakan adalah mengapa memilih Makassar sebagai tempat menuntut ilmu bila dibandingkan kota-kota lain. Sebagian besar menjawab bahwa pada saat memilih lokasi, mereka beranggapan bahwa tidak akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi di Makassar lagi mengingat mereka pun sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang yang berasal dari Toraja, Bugis, Makassar di daerah mereka masing-masing. Kemudian transportasi untuk kembali ke daerah juga tidak terlalu memakan banyak biaya karena Makassar sudah dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia Timur sehingga akses dari Makassar menuju daerah-daerah di Papua sangat lancar. Kemudian saya mencoba mencari alasan mengapa banyak mahasiswa/i Papua yang akhirnya DO dari kampusnya dan apa yang kira-kira menyebabkan hal itu. Alasan yang saya peroleh dari mereka menunjukkan bahwa kejadian tersebut muncul dari internal mahasiswa itu sendiri dan beberapa faktor eksternal.
Saya merangkum faktor-faktor tersebut menjadi dua poin utama yang kemudian dijabarkan dibawah ini:
1.      Faktor Mahasiswa dan Lingkungan Sekitar
-          Tidak sedikit dari mahasiswa/i mengalami gejala homesick ketika harus membiasakan dirinya hidup di tempat yang baru. Beberapa dari mereka bahkan ada yang langsung pulang kampung untuk “berlibur” sejenak padahal perkulihan masih berlangsung. Parahnya lagi bahkan ada yang tidak kembali lagi untuk meneruskan perkuliahan dan memilih pindah ke kampus yang ada di Papua
-          Beberapa teman-teman menyoroti kebiasaan buruk teman-teman lain yang dibawa dari rumah seperti minum-minum sebagai penyebab mereka kurang bisa mengendalikan diri dengan baik.
-          Beberapa teman-teman Papua kesulitan untuk bergaul dengan masyarakat Makassar. Walaupun sebelumnya ada alasan bahwa mereka sudah akrab dengan orang-orang Sulsel yang sudah beradaptasi di daerah mereka, namun kali ini mereka yang harus beradaptasi dengan kultur dan budaya sulsel sehingga timbulah shock-culture bagi teman-teman Papua. Hal ini menyebabkan mereka merasa kesulitan bergul dan tidak kerasan karena jauh dari ekspektasi mereka sebelum menjejakkan kaki di Makassar.
-          Terakhir, menurut alasan dari beberapa teman-teman bahwa ada sebagian dari penerima ADIK Papua ditempatkan pada jurusan yang tidak sesuai dengan pilihan yang diambil pada saat mendaftarkan beasiswa sehingga mereka kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan perkuliahan, terlebih lagi bagi mereka yang memiliki jurusan yang sangat jauh kaitannya dengan jurusan yang mereka ambil saat masih bersekolah. Kejadian ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan mereka karena pihak pemerintah dan pengelola beasiswa pun ikut terkait didalamnya.
2.      Faktor Pemerintah dan Pengelola Beasiswa
Sejak dibukanya penerimaan angkatan pertama beasiswa ADIK Papua, ada beberapa perubahan yang dilakukan guna meningkatkan mutu beasiswa tersebut. Menurut ketua IMP Makassar, Kristian Degei, beberapa perbaikan tersebut mencakup peningkatan standar nilai ijazah dan pelaksanaan ujian di masing-masing kabupaten/kota. Namun sayangnya kurangnya sosialisasi mengenai jurusan-jurusan yang ditawarkan oleh beasiswa ini seringkali mengakibatkan calon mahasiswa/i terpaksa keliru mengambil jurusan yang tidak sesuai keinginan mereka. Hal ini mengakibatkan para mahasiswa/i ini kesulitan untuk mempelajari ilmu yang masih baru sehingga seringkali terhambat dalam proses akademik. Lanjut Kristian, kali ini sedikit menyinggung peran tiap pemerintah daerah, kendala lain yang dihadapi adalah biaya hidup yang dijanjikan untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa/i sering tidak dikirimkan. Jumlah yang dijanjikan tiap bulan sebesar Rp1.000.000/orang yang menjadi tanggungan tiap pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap masing-masing utusannya dan Rp500.000/orang yang menjadi tanggungan pemerintah provinsi. Namun sayangnya mahasiswa/i ini sebagian besar hanya mengandalkan biaya yang diberikan oleh keluarga masing-masing dan yang dikeluarkan oleh DIKTI sebesar Rp1.000.000 dimana biaya itu merupakan biaya tempat tinggal atau pemondokan dan perlengkapan untuk menunjang akademik. Mungkin sebagian mereka yang pulang beranggapan hal itu sangat mengganggu mengingat kebutuhan mereka tidak hanya menyangkut persoalan kebutuhan akademik tetapi juga kebutuhan-kebutuhan lain seperti refreshing, konsumsi pangan, dan kegiatan-kegiatan diluar akademik yang menunjang pengembangan diri mereka. Mereka pun akhirnya memilih untuk tidak terlalu banyak beraktivitas diluar dan menghabiskan waktu hanya di asrama.
Dari berbagai permasalahan yang dijabarkan diatas, saya dan teman-teman yang berasal dari Papua berharap agar kejadian ini menjadi perhatian bagi pemerintah, khususnya UP4B yang dibawahi pemerintah pusat selaku penyelenggara program ini dan pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat. Program ini pada dasarnya berguna untuk meningkatkan taraf kehidupan dan kesejahteraan msyarakat Papua kedepannya. Akan sangat disayangkan apabila benih-benih yang ditabur ini pada layu sebelum mekar hanya karena persoalan-persoalan yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak dini. Persoalan ini mungkin tidak hanya terjadi di Makassar saja namun kiranya tulisan ini dapat memberikan informasi bagaimana fakta di lapangan berbicara dan bagaimana curahan teman-teman ADIK Papua yang sedih melihat teman-teman lainnya harus meninggalkan mereka. Pesan khusus kepada para penerima ADIK Papua untuk tetap semangat menghadapi segala tantangan yang ada dengan mengedepankan tujuan bahwa mereka adalah utusan-utusan yang terpilih untuk memajukan tanah Papua tercinta. Tuhan menyertai kalian.

                                                                                           
Gabriel Clinton M.
(Penulis merupakan mahasiswa

 Akuntansi Universitas Hasanuddin)

Jumat, 15 Mei 2015

Papua

Papua.......

Satu nama yang tak asing bagi sa.

Satu daerah yang memberikan kesempatan untuk sa dilahirkan.

Satu tanah air yang tak henti-hentinya menjadi inspirasi bagi sa.

Satu surga yang nyata yang Tuhan titipkan pada bumi ini.






Selasa, 10 Februari 2015

Fakta-fakta Seputar SD Kalam Kudus Jayapura

Kali ini saya akan menyajikan beberapa “fakta” yang pernah saya alami semasa menempuh pendidikan dasar di SD Kristen Kalam Kudus Jayapura




Letak sekolah. 
Letak sekolahnya bisa dibilang keren sekaligus mengerikan. Gimana tidak kalau terletak di tepi jurang turunan polimak ke jayapura. Ancaman longsor bisa saja terjadi sewaktu-waktu, tapi hingga kini syukurlah belum pernah kejadian. Hahahaha

Hari main. 
Hari main adalah hari dimana lapangan beton yang dimiliki sekolah dikuasai secara satu hari penuh oleh tingkat kelas yang berada disekitar lapangan. Pengecualian pada jam pelajaran olahraga. Hal ini dikarenakan adanya invansi dari kelas-kelas tua yang mau menguasai lapangan untuk sekedar bermain sepak botol berisi kerikil sehingga adik-adik kelas merasa cemburu dan melaporkan pada guru. 

Sekolah satu atap terkenal di Jayapura. 
Ndak usah ditanya lagi. Mulai dari Playgrup, TK, SD, SMP, hingga SMA pun ada. Tinggal tunggu waktu kira-kira kapan dibuka Universitasnya -_-. 

Sekolah tangga seribu. 
Sekolah dengan paling banyak anak tangga yang ada di Jayapura. Cocok bagi orangtua yang menginginkan anaknya bersekolah sambil olahraga tiap hari :D 

Sekolah minggu 
Sekolah minggu di Kalam kudus merupakan aturan yang wajib hukumnya untuk anak SD Kalam Kudus. Bagaimana tidak, tiap minggu kitorang diabsen di kelas. Kayak sekolah dari hari senin-sabtu cuma bedanya hari minggu sekolah cuma 2 jam sambil berpakaian bebas 

Om Kris 
Om dengan ciri khas kumis tebal bisa disebut pahlawan anak-anak SD. Semua hal yang berhubungan di kalam kudus tinggal tanya sama dia saja, mulai dari angkutan pulang, guru yang masih ada, anak-anak kelas lain, hingga orangtua siswa serta alamatnya dia tahu. 

Kantin vs Jajanan luar (mami, cilok, dll)
Ndak mau banyak komentar disini. Yang jelas anak-anak sering curi-curi kesempatan untuk lari dari sekolah di jam istirahat untuk jajan di luar sekolah. Ada yang bilang karena kantin sekolah makanannya nggak enak. 

“Bombe” 
Istilah kata dari Makassar yang artinya tidak berteman. Biasanya terjadi di kelas 4-6 SD. Biasanya yang berkelahi dua orang dalam sekelas yang akhirnya musuhan. Kemudian masing-masing mencari pendukungnya sehingga terjadi “gangster”. Teman-teman yang mau menjadi pendukung kubu-kubu akan ditraktir trus-trusan oleh “bos” yang berkelahi tapi anggota genk tetap berhubungan baik dengan anggota lain. Hahaha. Yah lamanya sampai mereka damai.   

Satu sekolah ragam suku
Yups... Suku Papua asli, toraja, jawa, batak, cina, sunda, manado, padang, dayak, dll berkumpul dalam satu sekolah dengan tidak membeda-bedakan ko suku mana.  

Bibit Cewek-cewek cantik
Kalo kam cowok-cowok yang mau lihat anak-anak SD yang cantik cantik dan mulai berpakaian kayak tante-tante, kam datang saja ke sekolah ini. Dijamin pasti ada yang meninggalkan kenangan dalam hati.

Oke demikian beberapa yang bisa sa bagi tentang fakta-fakta yang pernah sa temukan di SD Kalam Kudus Jayapura. Hampir 9 tahun lamanya sejak sa meninggalkan sekolah ini dan sampai sekarang kenangannya susah dilupakan sampai-sampai lagu marsnya masih dihafal. Ndak tahu sekarang kondisi sekolah dan orang-orangnya mungkin sudah banyak berubah atau tidak. Yang jelas teman-teman yang mau tambahkan, silahkan saja.. :D

Senin, 05 Januari 2015

When I'm in 6115

       Bisa dibilang hadiah terindah yang saya dapatkan adalah kesempatan untuk menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya bersama jutaan partikel-partikel minus yang didalam hidupku. Kali ini aku masih berkesempatan untuk merayakan “tahun baru” dimana hanya aku dan sang pencipta saling berbagi asa dan harapan. Kesempatan ini hanya terjadi sekali dalam setahun, dan saat ini aku masih termasuk dalam orang-orang yang harus menggelar tradisi ini manakala beberapa orang telah dipanggil untuk meninggalkan momen mereka dan menghadap Sang Bapa. 

        Sedih namun Gembira. Dua hal yang selalu tertanam ketika aku duduk dalam kekhusyukan dan melipat tangan sembari memejamkan mata menghadap kepadaNya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghadapNya sesuai dengan ajaranNya melalui perantara- perantara, dan cara diatas tadi telah kupakai bertahun-tahun sejak aku mulai tersadar bahwa Dialah yang senantiasa masih menjadi pengharapanku.

       “Tahun baru” selalu menjadi dilema bagiku. Gembira karena masih diberi penambahan usia, namun disisi lain sedih karena kesempatan hidup kian berkurang. Aku dihadapkan pada situasi sedih ketika aku  mengingat hal-hal yang telah aku lewati dan semua itu telah  membentukku menjadi aku pada hari ini. Bisa dibilang akan ada banyak penyesalan dan caci maki yang terlontarkan kepada Dia. But wait,, yaaaaaaahhhh,, situasi itu cuma terjadi kalau aku hanya melihat sisi negatif yang secara manusiawi pasti akan sering muncul ketika aku memflash-backkan pikiranku. Dan ketika aku merenungkan lagi, masih banyak sisi positif dari  masa laluku yang bisa kupakai sebagai Capital for invest di masa depan untuk memperbaiki itu semua dan mencapai apa yang menjadi janjiNya bagiku. Hal itu yang selalu membuatku Gembira dan tidak kehilangan pengharapan serta impian, seperti yang tertulis dalam Luke 21:18-19 yang berbunyi:

“But there shall not an hair of your head perish
In your patience possess ye your souls”


Minggu, 04 Januari 2015

Ketika "Mereka" Berbicara

Hidup ini ibarat suatu siklus Akuntansi
Ketika kamu dihadapkan pada suatu Periode dalam hidupmu

Kesenangan dan kesedihan ibarat  Debit dan Kredit 
Dua elemen yang tak bisa dipisahkan

Ketika kau senang, sukacita ibarat kas yang bertambah
Namun manakala kau sedih, hal itu menjadi expense bagimu
 
Ketika kau mengucapkan sebuah janji manis yang tidak kau tepati 
Maka hal itu bagaikan hutang bagimu dan kewajibanmu harus melunasinya

Ketika seseorang lalai akan perbuatannya, maka tegurlah dia demi kebaikan
Laksana piutang yang memberikan manfaat antara engkau dengan orang tersebut

Ketika Tuhan menitipkan talenta kepadamu untuk mengembangkannya
Belajarlah untuk mengolah Modal tersebut menjadi suatu kebaikan

Kamis, 01 Januari 2015

LOOK AT IT! THIS IS 2015

Tepat setahun blog ndak pernah diupdate, terakhir update yang bisa kalian lihat pada postingan dibawah :D. Awalnya blog ini hanya untuk tuntutan tugas semata dan orientasinya lebih kepada pengenalan daerah, namun seiring waktu akhirnya bertransformer.. ehh maksudnya bertransformasi ke arah pribadi. Kalau mau dibilang ada juga unsur curhat-curhatan.. aihihiiiiiiiiii

Menulis itu memang membutuhkan sebuah niat dan inspirasi dan sayapun sering kehilangan niat dan inspirasi menulis hampir selama 2014 kemarin.  Yah mungkin karena kegiatan yang sangat mengasyikan ini sedikit teralihkan ke kegiatan yang cukup memakan waktu lainnya. Namun di tahun baru 2015 akan ada banyak waktu yang tersedia untuk menulis –menulis  yang namanya skripsi, jurnal, cerpen, renungan,  informasi organisasi, dan lain-lainnya. selain iu ada faktor “ehm” yang membuat sa kembali bersemangat menumpahkan pikiran keatas tombol keyboard. 
Berbicara tentang 2015, yang merupakan kelanjutan dari 2014 (you don’t say!), akan ada banyak peristiwa penting dalam resolusi yang akan sa lalui. Mulai dari ulang tahun, penentuan pembimbing dan judul, penyusunan tugas akhir (baca: skripsi), pengambilan sertifikat bahasa, wisuda (amin*), bertemu “calon maitua” (amin*), menentukan kelanjutan karir (amin*), menghadapi persaingan dalam Pasar Bebas ASEAN (AEC) 2015, dll ; ket: tanda * artinya “biar Tuhan yang menentukan” :D
Hal yang dihawatirkan oleh setiap mahasiswa akhir akhirnya akan saya rasakan meskipun terbilang agak telat jika melihat beberapa teman ada yang sudah memulai persiapan untuk ujian meja. Dala menikapi hal itu saya berserah kepadaNya untuk memperlancarkan proses penyusunan dan memampukan sa untuk terus semangat dalam bekerja #DoaDalamCurhatan
Mengenai pasar bebas ASEAN, walaupun segelntir orang tidak mengganggapnya sebagai suatu persoalan, namun bagi sa biarlah itu menjadi satu pemacu untuk meningkatkan kualitas dan  menunjukkan bahwa sa bisa berperan dalam menghadapi 2015, seperti pengharapan yang tertulis dibawah

"sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (yer 29:11)

Rabu, 08 Januari 2014

Inilah ANGKRINGAN PAPUA

Harusnya tulisan ini adalah sebagai pengenalan di sa pu blog. Cuma karena su terlanjur dipenuhi dengan tulisan lainnya jadi kasih biar aja sudah. Terpaksa catatan ini ada di tengah-tengah.
Berawal dari tugas yang dituntut dosen sebagai dasar untuk menentukan kelulusan mata kuliah Sistem Informasi Manajemen. Itulah sekilas gambaran kenapa blog ini bisa ada. Dengan dilandasi kegaptekan akan media komunikasi blog, dan kurangnya minat akan menulis membuat sa awalnya ragu untuk membuat blog ini. Bagaikan seorang tentara yang berada di medan perang, antara hidup dan mati, sa akhirnya harus mengalah kepada tuntutan tersebut dan harus menggali timbunan yang ada di dalam otak sa yang selama ini menutup minatku untuk kembali menulis. Setelah melalui perjuangan panjang melalui dimensi alam bawah sadar, akhirnya muncullah minat untuk menulis kembali,  *terakhir di bangku SMP “woowwwww”

Untuk membuat suatu blog yang menarik, menurut sa pu dosen pertama-tama harus memilih nama alamat blog menurut kita the best sesuai dengan tema pembahasan yang diambil.  Kebetulan saya awalnya mengangkat tema mengenai Budaya dan Profil, khusunya daerah Papua. Saat ditanya sama dosen mengapa mengangkat hal itu, sa hanya menjawab “karena sa putra Papua, walau rambut lurus!”. Seperti seorang keluarga yang memilih nama anaknya, pasti akan melalui perdebatan-perdebatan untuk mencari nama yang indah dan bermakna. Begitu pula yang terjadi sama sa. Cuma kasusnya sa nggak ada pasangan untuk berdebat dalam menentukan nama dan hanya memilih nama blog yang nggak ada kaitannya dengan  nyawa manusia (?????)

Bagaikan seorang jomblo yang menyeleksi nama-nama terbaik untuk dijadikan pasangannya, akhirnya sa mendapatkan nama yang pas untuk alamt blog ini yakni AngkringanPapua. Terkesan ganjil dirasa kalo mau lihat ini kaitannya karena di Papua mana ada angkringan?! Yang ada Cuma para-para saja buat tempat duduk. Kalo mahasiswa Papua yang kuliah di Jawa saja yang mungkin tra rasa ganjil karena mungkin kaka-kaka dong pu tempat makan ka pa kalo di Jawa. Hahaha.
Sebenarnya makna angkringan tidak sebatas hanya tempat makan. Lebih dari itu, pengalaman saya selama berdomisili di Jawa mengatakan Angkringan lebih daripada itu. Saat makan di angkringan, interaksi antara sesama penjual dan konsumen senantiasa terjadi, beda apabila hanya makan di tempat restauran atau lainnya. Biasanya banyak kejadian dan bahan pembicaraan seperti keluh-kesah penjual, pembeli yang tidak menonjolkan status kesosialannya, hingga mungkin ketika penjual tersebut memberi harga Rp 0,00 alias gratis pada pembelinya karena sudah menjadi teman bicara. Hal itu mengingatkan sa pada keramahan yang sa dapat di Papua. Rasa toleransi yang kuat dan kekeluargaan menembus batas jurang perbedaan yang selama ini menjadi papeda hangat di Indonesia. Yahhh, bagaikan papeda hangat yang keadaannya masih lembek sehingga bisa dipecah-pecah tetapi orang suka memakannya, begitu pula kaitannya dengan kondisi isu perbedaan yang memang rawan pecah dan orang-orang suka membahasnya. Semoga saja terpelihara terus yah kekeluargaannya. Amin

Kini blog ini setelah mendapat penilaian dari dosen mendapat nilai yang maksimal walau isinya wajtu itu Cuma ada 4 artikel.. hahahaha. Dan sekarang sa mau menggunakan blog ini tidak hanya sekedar mengejar tuntutan tugas semata, lebih dari itu untuk menyampaikan juga sedikit pemikiran yang kalo orang Makassar bilang KRITIS-KRITIS TALEKKANG

Senin, 06 Januari 2014

KUTUKAN?? NO! NO! NO!


Pernah nggak kalian merasa bahwa kalian adalah orang terkena kutukan. Misalnya saat ujian. Dari rumah kalian telah berkomitmen bahwa aing nggak bakal nyontek. Namun tiba-tiba di tengah sedang ujian, munculllah bisikan nurani untuk menciptakkan sedikit fraud (baca: nyontek), dan pada saat menengok kekiri dan kanan ternyata orang-orang disebelahmu telah mendahului kalian untuk melakukan bisikan nurani tadi. Mau tak mau daripada ngesia-siain momentum mending ikutan aja. Tapi saat nilai keluar, kalian malah mendapat nilai ERROR dan teman-teman lain mendapat nilai bagus.  Giliran minta kelejasan dosen, alasannya pengawas telah menulis nama kalian sebagai sang Pelaku kriminal di dalam kelas. kagetttt????? ya jelas lah, wong aku hanya ngikutan konco-konco kabeh neng kelasku.

Itu semua merupakan salah satu pengalaman aing dimana itu terjadi tepat di hari ulang tahun. Hari yang dimana bisa menjadi momen yang indah namun kenyataannya malah mendapat kutukan..

“haaaaaaaaa?????!!!!!!!!!!!”, teriak sang penggerutu (baca: aing) ketika melihat nilai itu. Maka muncullah kisah flashback mengenang ujian ala Naruto yang komiknya nggak tamat-tamat karena selalu muncul flashback.

Kenyataan yang kuterima saat itu menghasilkan keputusan bahwa aku harus mencari black-goat. Caranya??

- Pergi ke pasar yang menjual kambing terus tanya penjualnya, “pak ada jual black-goat nggak??”,    atau
- Merenungi nasib
(pilihlah jawaban yang tepat)

Jika kuharus memilih, kutunjuk satu yang terbaik dan terindah adalah Merenungi Nasib (soalnya kalo ke pasar nggak gratis). Merenungi nasib menurutku adalah jalan terbaik dan gratis untuk mencari black-goat tadi. Dimulai dari mencari penyebab kenapa bisa menjadi begitu. Saat sebelum memasuki pekan ujian, saya sempat berkomitmen agar ndak menyontek. Tetapi, saat memasuki minggu ujian ternyata banyak sekali permasalahan yang menimpa secara pribadi sehingga konsentrasi belajar buyar dan hanya mengandalkan kemampuan mata untuk beberapa mata kuliah. Hasilnya, tertangkap deh di satu mata kuliah, dan hasilnya LUAR BIASA gagal.

Apa itu sebuah kutukan? Sebenarnya bisa saja iya kalau kita memandang dari perspektif putus asa.  Awalnya aing juga berpikiran begitu, tetapi aing teringat bahwa jalan Tuhan itu selalu ada saja tujuannya meskipun mengorbankan kenyamanan kita. Sempat juga saya mengatakan kesulitan di mata kuliah karena merasa ketinggalan saat mempelajari dasarnya, dan Tuhan mendengar ucapan saya sehingga memberi saya kesempatan lagi untuk mendalami pelajaran itu sebelum memasuki ke tingkat berikutnya. Dan sekarang aing hanya memantapkan diri aing bahwa kutukan itu sebenarnya ndak nyata karena itu semua jalan tuhan untuk membuat kita belajar mengintrospeksi diri.

Demikian sedikit orasi dari aing. Apabila ada teman-teman yang masih merasa terkena kutukan dan segala macam, percayalah itu semua pasti ada sebab dan tujuan untuk memperbaiki diri kita.

*amin

Sabtu, 04 Januari 2014

Welcome 2014, Be Your Self

"Tahun baru artinya usia baru, dan harapanku yaitu diriku yang baru."

Itulah sejenak resolusi yang mungkin dihaturkan oleh manusia-manusia yang merayakan pergantian tahun Masehi. Kenapa hanya bagi mereka yang merayakan? Ya, karena kita berada di indonesia yang memiliki keragaman, tahun yang dianut oleh pemahaman masing-masing orang boleh saja berbeda. Kita mengenal ada tahun Saka, Hijiriah, Jawa, dan lain-lain, namun suka atau tidak suka tetap saja mereka harus mengalah terhadap khalayak umum yang menganut tahun masehi sebagai ketetapannya.

Terlepas dari permasalahan tahu diatas, tahun baru menandakan orang-orang siap menghadapi berbagai macam persoalan baru. Tak pelak hal ini diibaratkan bagai buku kosong setebal 365 halaman yang siap diisi dengan berbagai macam tulisan didalamnya. Tahun baru menandakan bahwaadanya usia baru bagi kita, namun hal ini juga menandakan bahwa kesempatan hidup kita di bumi makin berkurang. Hal ini ditandai dengan beberapa perubahan fisik yang terjadi secara alamiah terhadap tubuh kita dan membuat diri kita akan tersadar bahwa kesempatan kita menghadap sang Khalik pun tinggal menunggu waktu.

Seiring usia yang baru tersebut, setiap orang menginginkan adanya perubahan selain tentunya perubahan fisik tersebut. Perubahan yang tidak secara nampak langsung terjadi pada diri kita namun harus dirasakan oleh orang lain saat mereka berinteraksi dengan kita. Seringkali pernyataan “ini loh aku yang baru” berusaha diungkapkan oleh setiap pribadi yang ingin menampakkan perubahan secara non-fisik pada setiap orang, namun seringkali juga sulit dipahami oleh orang lain. Sifat yang telah dikenal oleh orang lain pada diri kita sehingga kita telah dijugde dengan karakter tersebut sering menjadi tembok penghalang untuk membuat diri kita menjadi baru. Untuk membuat perubahan pada karakter kita tentunya tak semudah yang dipikirkan. Dalam event WWE Smackdown RAW yang dikenal mengandung unsur setingan, seorang pegulat yang ingin mengganti karakter tokohnya saja harus melalui berbagai macam alur/plot skenario yang seakan-akan karena ada berbagai permasalahan pada setiap eventnya membuat ia pun menjadi orang yang teraniaya dengan masalah-masalah dan cukup membuat penonton memiliki kesan menarik. Karakter baru pun muncul dari dalam pegulat tersebut dan menandakan citra yang baru di mata penonton. Begitu juga dengan diri kita. Saat karakter kita di mata orang lain buruk, tentunya orang akan merasa aneh apabila dalam waktu sehari kemudian kita tiba-tiba menjadi orang yang layaknya seorang pendeta atau imam yang selalu mengeluarkan hal-hal yang bijak dan dipandang baik bagi orang lain. Tentunya kita akan dikira sedang depresi atau stres sehingga rasa illfell terhadap kita pun menjadi-jadi. Hal itu tentunya malah menurunkan semangat kita untuk menjadi “aku yang baru”.

Tak ada yang salah dengan ucapan “mending jadilah dirimu sendiri” atau bahasa mainstreamnya “be u re self”. Namun seringkali orang akan mengambil tindakan yang negatif menurut saya dengan membuat kita merasa di zona nyaman kita secara terus menerus apabila ucapan tersebut terlontarkan. Menurut saya kesan “be u re self” harus menjadi batu pijakan bagi kita untuk menjadi Menjadi diri sendiri artinya kita harus memperbaiki hal-hal yang terstigma buruk dalam diri kita. Ini untuk diri kita! bukan orang lain!. Dan yang mampu merubah diri kita menjadi lebih baik hanya diri kita sendiri. Pahami dirimu dan bentuklah dirimu menjadi lebih baik lagi. Karakter yang jelek menurut orang lain dan diri kita, secara perlahan dari hal yang sederhana kita ubah menjadi lebih baik lagi. Hal ini tidaklah sulit kalau kita renungkan karena pada dasarnya pembentukan karakter diri kita yang biasanya dianggap tadinya kurang berkenan tentunya tidak terbentuk secara alami begitu saja secara internal. Hal-hal tersebut terbentuk karena dipengaruhi dari hal-hal yang eksternal dari diri kita seperti lingkungan. Dan apabila kita ingin merubah untuk menjadi “aku yang baru” tentunya tidak akan pernah terlambat selama kita telah menyadari apa yang paling terbaik untuk dirimu di kemudian hari.