Selasa, 10 Februari 2015

Fakta-fakta Seputar SD Kalam Kudus Jayapura

Kali ini saya akan menyajikan beberapa “fakta” yang pernah saya alami semasa menempuh pendidikan dasar di SD Kristen Kalam Kudus Jayapura




Letak sekolah. 
Letak sekolahnya bisa dibilang keren sekaligus mengerikan. Gimana tidak kalau terletak di tepi jurang turunan polimak ke jayapura. Ancaman longsor bisa saja terjadi sewaktu-waktu, tapi hingga kini syukurlah belum pernah kejadian. Hahahaha

Hari main. 
Hari main adalah hari dimana lapangan beton yang dimiliki sekolah dikuasai secara satu hari penuh oleh tingkat kelas yang berada disekitar lapangan. Pengecualian pada jam pelajaran olahraga. Hal ini dikarenakan adanya invansi dari kelas-kelas tua yang mau menguasai lapangan untuk sekedar bermain sepak botol berisi kerikil sehingga adik-adik kelas merasa cemburu dan melaporkan pada guru. 

Sekolah satu atap terkenal di Jayapura. 
Ndak usah ditanya lagi. Mulai dari Playgrup, TK, SD, SMP, hingga SMA pun ada. Tinggal tunggu waktu kira-kira kapan dibuka Universitasnya -_-. 

Sekolah tangga seribu. 
Sekolah dengan paling banyak anak tangga yang ada di Jayapura. Cocok bagi orangtua yang menginginkan anaknya bersekolah sambil olahraga tiap hari :D 

Sekolah minggu 
Sekolah minggu di Kalam kudus merupakan aturan yang wajib hukumnya untuk anak SD Kalam Kudus. Bagaimana tidak, tiap minggu kitorang diabsen di kelas. Kayak sekolah dari hari senin-sabtu cuma bedanya hari minggu sekolah cuma 2 jam sambil berpakaian bebas 

Om Kris 
Om dengan ciri khas kumis tebal bisa disebut pahlawan anak-anak SD. Semua hal yang berhubungan di kalam kudus tinggal tanya sama dia saja, mulai dari angkutan pulang, guru yang masih ada, anak-anak kelas lain, hingga orangtua siswa serta alamatnya dia tahu. 

Kantin vs Jajanan luar (mami, cilok, dll)
Ndak mau banyak komentar disini. Yang jelas anak-anak sering curi-curi kesempatan untuk lari dari sekolah di jam istirahat untuk jajan di luar sekolah. Ada yang bilang karena kantin sekolah makanannya nggak enak. 

“Bombe” 
Istilah kata dari Makassar yang artinya tidak berteman. Biasanya terjadi di kelas 4-6 SD. Biasanya yang berkelahi dua orang dalam sekelas yang akhirnya musuhan. Kemudian masing-masing mencari pendukungnya sehingga terjadi “gangster”. Teman-teman yang mau menjadi pendukung kubu-kubu akan ditraktir trus-trusan oleh “bos” yang berkelahi tapi anggota genk tetap berhubungan baik dengan anggota lain. Hahaha. Yah lamanya sampai mereka damai.   

Satu sekolah ragam suku
Yups... Suku Papua asli, toraja, jawa, batak, cina, sunda, manado, padang, dayak, dll berkumpul dalam satu sekolah dengan tidak membeda-bedakan ko suku mana.  

Bibit Cewek-cewek cantik
Kalo kam cowok-cowok yang mau lihat anak-anak SD yang cantik cantik dan mulai berpakaian kayak tante-tante, kam datang saja ke sekolah ini. Dijamin pasti ada yang meninggalkan kenangan dalam hati.

Oke demikian beberapa yang bisa sa bagi tentang fakta-fakta yang pernah sa temukan di SD Kalam Kudus Jayapura. Hampir 9 tahun lamanya sejak sa meninggalkan sekolah ini dan sampai sekarang kenangannya susah dilupakan sampai-sampai lagu marsnya masih dihafal. Ndak tahu sekarang kondisi sekolah dan orang-orangnya mungkin sudah banyak berubah atau tidak. Yang jelas teman-teman yang mau tambahkan, silahkan saja.. :D

Senin, 05 Januari 2015

When I'm in 6115

       Bisa dibilang hadiah terindah yang saya dapatkan adalah kesempatan untuk menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya bersama jutaan partikel-partikel minus yang didalam hidupku. Kali ini aku masih berkesempatan untuk merayakan “tahun baru” dimana hanya aku dan sang pencipta saling berbagi asa dan harapan. Kesempatan ini hanya terjadi sekali dalam setahun, dan saat ini aku masih termasuk dalam orang-orang yang harus menggelar tradisi ini manakala beberapa orang telah dipanggil untuk meninggalkan momen mereka dan menghadap Sang Bapa. 

        Sedih namun Gembira. Dua hal yang selalu tertanam ketika aku duduk dalam kekhusyukan dan melipat tangan sembari memejamkan mata menghadap kepadaNya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghadapNya sesuai dengan ajaranNya melalui perantara- perantara, dan cara diatas tadi telah kupakai bertahun-tahun sejak aku mulai tersadar bahwa Dialah yang senantiasa masih menjadi pengharapanku.

       “Tahun baru” selalu menjadi dilema bagiku. Gembira karena masih diberi penambahan usia, namun disisi lain sedih karena kesempatan hidup kian berkurang. Aku dihadapkan pada situasi sedih ketika aku  mengingat hal-hal yang telah aku lewati dan semua itu telah  membentukku menjadi aku pada hari ini. Bisa dibilang akan ada banyak penyesalan dan caci maki yang terlontarkan kepada Dia. But wait,, yaaaaaaahhhh,, situasi itu cuma terjadi kalau aku hanya melihat sisi negatif yang secara manusiawi pasti akan sering muncul ketika aku memflash-backkan pikiranku. Dan ketika aku merenungkan lagi, masih banyak sisi positif dari  masa laluku yang bisa kupakai sebagai Capital for invest di masa depan untuk memperbaiki itu semua dan mencapai apa yang menjadi janjiNya bagiku. Hal itu yang selalu membuatku Gembira dan tidak kehilangan pengharapan serta impian, seperti yang tertulis dalam Luke 21:18-19 yang berbunyi:

“But there shall not an hair of your head perish
In your patience possess ye your souls”


Minggu, 04 Januari 2015

Babi dan Nangka

Suatu hari pace Lalo ini dari kampung mau menuju di kota untuk jual barang yang ada dalam dia pu karong.  Pas begini ada angkot lewat, lalo ini kasih berhenti angkot. Pace kondektur tanya "bapa, mau ke kota kah?" pace Lalo jawab "io anak, sa mau ke kota mau jual dalam karung ini". Trus kondektur tanya lagi  “itu barang apa pu besar skali sampe ko mau jual?" pace Lalo bilang “anak, ini sa bawa nangka!” Akhirnya mereka berangkat ke kota.

Pas ditengah perjalanan tiba-tiba penumpang-penumpang tutup hidung. Bapa supir suruh pace kondektur ini periksa barang apa yang bikin bau. Kondektur keliling-keliling tiba-tiba dia cium barang tra enak dari karungnya pace Lalo. Pace kondektur angkat bicara, “pace ko pu karung ini bau khas skali. Sebenarnya ko tra bawa nangka toh. Ko bawa babi toh?” Pace Lalo yang daritadi ketawa-  ketawa langsung jawab “siooo anak eh. Ko pu hidung sirbeh skali. Io memang sa ada bawa babi tapi dia pu nama itu Nangka karena dia pu poroh su besar kayak nangka.”  

 Haahahahahahaaaaaaaa!!!!!!!

Ketika "Mereka" Berbicara

Hidup ini ibarat suatu siklus Akuntansi
Ketika kamu dihadapkan pada suatu Periode dalam hidupmu

Kesenangan dan kesedihan ibarat  Debit dan Kredit 
Dua elemen yang tak bisa dipisahkan

Ketika kau senang, sukacita ibarat kas yang bertambah
Namun manakala kau sedih, hal itu menjadi expense bagimu
 
Ketika kau mengucapkan sebuah janji manis yang tidak kau tepati 
Maka hal itu bagaikan hutang bagimu dan kewajibanmu harus melunasinya

Ketika seseorang lalai akan perbuatannya, maka tegurlah dia demi kebaikan
Laksana piutang yang memberikan manfaat antara engkau dengan orang tersebut

Ketika Tuhan menitipkan talenta kepadamu untuk mengembangkannya
Belajarlah untuk mengolah Modal tersebut menjadi suatu kebaikan

Kamis, 01 Januari 2015

LOOK AT IT! THIS IS 2015

Tepat setahun blog ndak pernah diupdate, terakhir update yang bisa kalian lihat pada postingan dibawah :D. Awalnya blog ini hanya untuk tuntutan tugas semata dan orientasinya lebih kepada pengenalan daerah, namun seiring waktu akhirnya bertransformer.. ehh maksudnya bertransformasi ke arah pribadi. Kalau mau dibilang ada juga unsur curhat-curhatan.. aihihiiiiiiiiii

Menulis itu memang membutuhkan sebuah niat dan inspirasi dan sayapun sering kehilangan niat dan inspirasi menulis hampir selama 2014 kemarin.  Yah mungkin karena kegiatan yang sangat mengasyikan ini sedikit teralihkan ke kegiatan yang cukup memakan waktu lainnya. Namun di tahun baru 2015 akan ada banyak waktu yang tersedia untuk menulis –menulis  yang namanya skripsi, jurnal, cerpen, renungan,  informasi organisasi, dan lain-lainnya. selain iu ada faktor “ehm” yang membuat sa kembali bersemangat menumpahkan pikiran keatas tombol keyboard. 
Berbicara tentang 2015, yang merupakan kelanjutan dari 2014 (you don’t say!), akan ada banyak peristiwa penting dalam resolusi yang akan sa lalui. Mulai dari ulang tahun, penentuan pembimbing dan judul, penyusunan tugas akhir (baca: skripsi), pengambilan sertifikat bahasa, wisuda (amin*), bertemu “calon maitua” (amin*), menentukan kelanjutan karir (amin*), menghadapi persaingan dalam Pasar Bebas ASEAN (AEC) 2015, dll ; ket: tanda * artinya “biar Tuhan yang menentukan” :D
Hal yang dihawatirkan oleh setiap mahasiswa akhir akhirnya akan saya rasakan meskipun terbilang agak telat jika melihat beberapa teman ada yang sudah memulai persiapan untuk ujian meja. Dala menikapi hal itu saya berserah kepadaNya untuk memperlancarkan proses penyusunan dan memampukan sa untuk terus semangat dalam bekerja #DoaDalamCurhatan
Mengenai pasar bebas ASEAN, walaupun segelntir orang tidak mengganggapnya sebagai suatu persoalan, namun bagi sa biarlah itu menjadi satu pemacu untuk meningkatkan kualitas dan  menunjukkan bahwa sa bisa berperan dalam menghadapi 2015, seperti pengharapan yang tertulis dibawah

"sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (yer 29:11)

Senin, 14 April 2014

Buah Merah Buah Surga

Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan Papua mendeklarasikan buah merah sebagai buah surga. Dasarnya makanan utama burung khas tanah Papua, cenderawasih, adalah buah merah. Itu sebabnya bulunya cantik dan indah. "Jadi jika burung cenderawasih dikenal sebagai burung surga, maka buah merah yang menjadi makanannya bisa disebut buah surga," katanya, Senin, 14 April 2014.



Dia mengatakan buah merah akan menjadi salah satu produk unggulan Papua. "Mungkin tahun depan akan kami pakai pola perkebunan inti rakyat (PIR), sehingga masyarakat kami yang tak memiliki pekerjaan diarahkan menanam buah merah di seluruh wilayah kabupaten atau kota di Papua," ucapnya.

Pemerintah Papua juga sepakat menjadikan jus buah merah sebagai minuman resmi PON 2020. "Saat Papua jadi tuan rumah," katanya. "Ternyata buah merah ini luar biasa dan bisa menjadi produk unggulan kami di Papua, selain tanaman kopi dan kakao," ujar Lukas.

Buah merah adalah buah asli dari wilayah Papua yang kebanyakan tumbuh di wilayah pegunungan tengah provinsi ini, seperti di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Biasanya, masyarakat Wamena menyebut buah ini kuansu. Namun nama ilmiahnya adalah Pandanus conoideus.

Tanaman buah merah ini termasuk keluarga pandan-pandanan. Pohonnya menyerupai pandan, tapi tingginya dapat mencapai 16 meter dengan batang bebas cabang setinggi 5-8 meter yang diperkokoh akar-akar tunjang pada bagian bawah batang. Kultivar buah ini berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Adapun panjang buah merah mencapai 55 sentimeter dengan diameter 10-15 sentimeter. Sedangkan bobotnya dua-tiga kilogram. Saat matang, buah ini berwarna merah marun terang. Namun ada pula jenis tanaman ini yang buahnya berwarna cokelat dan cokelat kekuningan.

Bagi warga setempat, buah merah disajikan sebagai makanan dalam pesta adat bakar batu. Namun banyak pula warga yang memanfaatkannya sebagai obat. Buah merah sudah dikonsumsi sejak dulu secara turun-temurun sebagai suatu tradisi. Sebab, buah ini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit mata, cacingan, dan kulit serta meningkatkan stamina.

Sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2014/04/14/058570621/Buah-Merah-Buah-Surga

Rabu, 05 Februari 2014

Mansinam, 5 Februari 1855

Bagi kam yang merasa pernah tinggal di Papua pasti kam pernah mengalami kejadian yang asing di tanggal 5 Februari.Ya,,, di tanggal 5 itu seluruh lapisan masyarakat di pulau Papua baik Provinsi Papua dan Papua Barat punya libur sendiri dan bisa dikatakan itu adalah libur nasional penduduk Papua. 
Bagi yang merasa asing dengan hal itu pasti akan bertanya-tanya, “kenapa demikian?”. Kalau begitu saya akan jelaskan jawabannya.
Di tanah Papua dikenal dengan penduduk di Indonesia yang mayoritas beragama Nasrani yang dianut baik penduduk asli suku-suku di Papua ataupun yang berasal dari suku pendatang di Indonesia. Tanggal 5 Februari sendiri diperingati sebagai Hari Masuknya Injil di Tanah Papua sehingga menyebabkan lapisan masyarakat yang beragama Nasrani memperingati hari tersebut dengan ibadah syukur. Konsekuensinya ya mau tidak mau tanggal tersebut menjadi “tanggal merah” tersendiri bagi penduduk Papua. Masyarakat yang non-nasrani sendiri menghormati tanggal tersebut dan turut berpartisipasi menjaga kedamaian dan kerukunan saat perayaan berlangsung. Ini menjadi salah satu simbol ciri khas seluruh masyarakat penduduk Papua yang sangat terkenal rukun dan menjunjung Bhinneka Tunggal Ika.  
Sejarah tanggal 5 Februari sendiri menurut beberapa sumber berawal dari kisah 2 orang missionaris pekabaran injil yang melakukan perjalanan dengan misi pelayanan di daerah-daerah yang belum mengenal kekristenan. 2 orang tersebut bernama Carl Wilhelm Ottow, lahir pada tanggal 24 Januari 1827 dan kemudian meninggal pada tanggal 9 November 1982. Dan Johann Gottlob Geissler, dilahirkan pada 18 Februari 1830 di langenrechenback, Jerman. Perjalanan kedua hamba Tuhan untuk sampai di tanah Papua tersebut tidak lepas juga dari dukungan sultan Tidore. Sultan Tidore yang beragama Muslim memberikan ijin kepada 2 hamba tersebut untuk menyebarkan agama Kristen di Papua. Ijin tersebut dibutuhkan karena pada saat itu , tahun 1855, kesultanan Tidore yang menguasai daerah kepala burung Papua sehingga sebagai pendatang, mereka wajib menghargai pemilik rumah.

                                                                                  pulau Mansinam 
Tepat tanggal 5  Februari 1855, kedua missionaris tersebut tiba di tanah Papua, tepatnya di Pulau Mansinam, yang saat ini masuk di wilayah administrasi Manokwari, Papua Barat. Papua yang awalnya, menurut beberapa sejarah, adalah pulau yang sangat tertutup dan seram dikarenakan kasus-kasus perang suku dan kanibalisme, mulai tercerahkan seiring dengan kehadiran kedua missionaris tersebut yang datang dengan misi menyelamatkan umat manusia di tanah Papua. Pengorbanan yang dilakukan kedua orang itu dengan penuh ketulusan menampakkan hasil.
Dan mulai sejak itu,  masyarakat asli Papua pun menyambut kabar yang memberikan sukacita yang luar biasa dan menjadi pedoman kehidupan mereka. Demi memperingati itu semua, khusus di tanah Papua, tanggal 5 Februari diperingati sebagai penanda tonggak awal bahwa mereka telah menerima Kristus dan juga demi menghormati kedua tokoh tersebut.